Pongtiku, Pemberontak Pemerintahan Kolonial Terlama di Sulawesi

LIPSUS.ID, Timika – Persekutuan Pemuda Toraja Mimika (PPTM) memperingati Hari Ulang Tahun Pongtiku ke-172 tahun 2018. Pongtiku atau Ne’ Baso diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 2002 atas jasa besarnya melawan penjajah Belanda di Toraja, Sulawesi Selatan.

Serangkaian kegiatan HUT Pongtiku diawali karnaval bernuansa etnis Toraja hingga bambu runcing sebagai symbol senjata tradisional melawan penjajah. Kegiatan secara resmi dibuka oleh Ketua Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Mimika, Yohanis Bassang, yang juga selaku Wakil Bupati Mimika di Gedung Tongkonan, Kota Timika, Sabtu (21/7).

“Kegiatan ini sepenuhnya diselenggarakan oleh Persekutuan Pemuda Toraja Mimika, namun didukung juga oleh pengurus IKT Mimika yang di dalamnya ada puluhan persekutuan Toraja,” kata Ketua PPTM, Yohanes Junika Amba.

Junika Amba mengatakan, rangkaian kegiatan HUT Pongtiku meliputi lomba seni dan olahraga seperti tarian adat Toraja atau Ma’gellu, vocal group/paduan suara, puisi, dan bola volley. Kegiatan lomba akan berlangsung selama seminggu hingga puncak acara penutupan pada Sabtu (28/7).

Peserta yang ikut dalam lomba tersebut adalah warga masyarakat Toraja yang diwakilkan dari masing-masing persekutuan. Dimana hingga kini terdapat 42 persekutuan (sub kerukunan) di lingkup IKT Mimika dari dua kabupaten, yakni Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara.

“Kegiatan HUT ini diagendakan sekali dalam satu kali periode kepengurusan PPTM selama tiga tahun, mengingat bahwa kegiatan ini membutuhkan dana yang besar dan sumberdaya yang besar,” jelas Junika.

Ancaman Belanda

Pongtiku dianggap sebagai ancaman besar bagi pemerintahan Belanda di wilayah Sulawesi pada masa penjajahan. Ia menjadi simbol pasukan gerilya dan pemberontak terlama di Sulawesi.  Gubernur Jenderal J. B. Van Heutsz waktu itu mengutus Gubernur Sulawesi untuk memimpin penangkapan Tiku dalam keadaan hidup atau mati.

“Pahlawan Pongtiku adalah seorang pemberani, punya komitmen yang kuat, dimana beliau punya tekad bahwa Tana Toraja tidak boleh terlalu lama dijajah oleh kolonial pada saat itu,” kata Junika Amba.

Junika mengisahkan, Pongtiku ketika itu seakan menjadi hewan buruan colonial Belanda. Hingga akhir hayatnya Tiku tidak pernah menyerah sedikitpun, sekalipun harus mengorbankan jiwa raganya. Ia bahkan tidak pernah merasakan ketenangan sepanjang hidupnya di tengah penjajahan.

“Prinsip beliau tidak mau dan tidak akan pernah menyerah kepada penjajah. Inilah semangat yang terus kita bangun, kita teruskan kepada generasi bahwa kita punya pahlawan yang berani, memiliki tekad kuat, punya prinsip yang tidak bisa dibeli untuk kepentingan pribadi,” tandas Junika.

Pemerintah Kabupaten Tana Toraja mengangkat Tiku sebagai pahlawan nasional pada tahun 1964. Kemudian tahun 1970, tugu penghormatan Tiku didirikan di tepi sungai Sa’dan. Ia lalu dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Dekret Kepresidenan 073/TK/2002 tanggal 6 November 2002.

Pada hari peringatan kematian Tiku, upacara khusus diselenggarakan di Makassar, ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Selain jalan raya utama beberapa daeah di Sulawesi, bandara di Kecamatan Rattetayo, Kabupaten Tana Toraja, juga diberi nama Pongtiku untuk mengenang jasanya.

“Mungkin saat ini kita tidak melakukan peperangan lagi, tetapi semangat juang beliau perlu ditanamkan untuk tidak boleh menyerah, tidak boleh kalah, tidak boleh mengorbankan prinsip yang kita yakini kebenarannya,” pesan Junika.

Riwayat Pongtiku (berbagai sumber)

Tiku lahir di Rantepao, dataran tinggi Sulawesi, Hindia Belanda (saat ini Toraja Utara) pada 1846. Tiku adalah putra bungsu penguasa Pangala’ salah satu panglima perang, Siambo’ Karaeng dan istrinya, Leb’ok. Ia hidup di masa gencarnya perdagangan kopi ketika itu.

Pada tahun 1880 pecah perang antara Pangala’ dan Baruppu’, negara tetangga yang dikuasai Pasusu. Tiku pun memimpin serangan ke negara tetangganya. Setelah Pasusu dikalahkan, Tiku menggantikannya sebagai penguasa Baruppu’.

Meski suku Toraja umumnya lebih menghargai tenaga manusia dan membunuh orang secukupnya saja, akan tetapi sejarah lisan Baruppu’ mendeskripsikan Tiku sebagai sosok pembunuh yang tidak memandang pria, wanita, atau anak-anak.

Tak lama kemudian, ayah Tiku meninggal dunia. Tiku naik sebagai penguasa Pangala’. Sebagai pemimpin, Tiku berusaha memperkuat ekonomi setempat dengan meningkatkan perdagangan kopi dan persekutuan strategis dengan suku-suku Bugis di dataran rendah.

Pada 1905, tanah-tanah Bugis dan Toraja sebelumnya telah disatukan dalam empat wilayah utama, salah satunya di bawah kepemimpinan Tiku. Pada bulan Juli tahun tersebut, raja Gowa, sebuah negara tetangga, mulai mengumpulkan prajurit untuk bertarung.

Ma’dika Bombing, seorang pemimpin dari negara selatan menunjuk Tiku sebagai asistennya. Sebulan setelah para pengirim kabar disebar, para pemimpin berkumpul di Gowa untuk membuka rencana aksi. Hasilnya, para penguasa lokal berhenti berperang satu sama lain dan berfokus melawan kolonial Belanda yang memiliki kekuatan besar.

Singkatnya, pada Maret 1906 kerajaan-kerajaan lainnya runtuh, meninggalkan Tiku sebagai penguasa Toraja terakhir. Belanda mengambil alih Rantepao tanpa perlawanan, namun tidak menyadari bahwa penyerahan kota tersebut diatur oleh Tiku. Melalui sebuah surat, Kapten komandan Belanda Kilian meminta Tiku untuk menyerah, sebuah permintaaan yang enggan ditepati Tiku.

Pada April 1906, Kilian mengirim sebuah kelompok ekspedisioner ke Tondon, namun pendekatan kelompok tersebut ditolak setelah pada tengah malam pasukan Tiku menyerang kamp Belanda. Peristiwa itu memaksa pasukan Belanda mundur ke Rantepao sementara pasukan Tiku mengejar serta membuat banyak korban menderita di sepanjang jalan.

Senjata Tirrik Lada

Pada malam 26 Juni 1906, pasukan Tiku menyerang pasukan Belanda di Lali’ Londong, sebuah serangan di mana Belanda belum mempersiapkan apapun. Pagi berikutnya, Belanda mempersiapkan sebuah pengepungan di Lali’ Londong menggunakan granat tangan dan tangga ke benteng Tiku di Buntu Batu. Siangnya, benteng tersebut ditaklukan.

Kekalahan itu mendorong Tiku memperkuat pasukannya. Para pasukan Toraja dipersenjatai dengan senapan, tombak, pedang, dan ekstrak  cabai (tirrik lada) yang disemprotkan ke mata lawan menggunakan sebuah pipa atau sumpit, untuk membutakan mereka.

Tiku sendiri dipersenjatai dengan sebuah senapan Portugis, tombak, dan pedang. Dia mengenakan baju besi pelindung, sebuah sepu’ (penjaga selangkangan), dan songkok dengan tonjolan yang berbentuk tanduk kerbau dan membawa perisai.

Setelah serangkaian perlawanan dalam dua kali penyerbuan, pada 30 Juni 1907 Tiku dan dua pasukannya ditangkap oleh pasukan Belanda. Ia menjadi pemimpin gerilya terakhir yang ditangkap. Setelah beberapa hari ditahan, pada 10 Juli 1907 Tiku ditembak dan dibunuh oleh pasukan Belanda di dekat Sungai Sa’dan.

Beberapa laporan menyatakan bahwa Tiku ditembak dengan mudah karena seluruh jimat kebalnya dia lucuti ketika sedang mandi. Ia dikubur di peristirahatan keluarganya di Tondon, meskipun sepupunya Tandibua’ menjadi penguasa asli Pangala’, ia menjabat di bawah kepemimpinan Belanda.

Setelah kematian Tiku, pemerintah kolonial berharap ia dilupakan, namun yang terjadi justru sebaliknya. Tandibua’ memberontak pada tahun 1917, dan kantong perlawanan kecil bertahan di sejumlah wilayah Sulawesi hingga Belanda terusir akibat pendudukan Jepang.

Pada masa pendudukannya, pasukan Jepang menggunakan Tiku sebagai simbol perjuangan Toraja terhadap agresi kolonial dan berusaha menyatukan rakyat untuk melawan bangsa Eropa.

 

Sumber: seputarpapua.com

Penulis: Sevianto Pakiding

Editor: Rum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *