Allo Rafra, Birokrat Teladan Berkarakter Aktivis

LIPSUS.ID – Athanasius Allo Rafra, SH. M.Si atau akrab disapa Allo Rafra tentu tak asing lagi bagi masyarakat Kabupaten Mimika bahkan Papua secara umum. Gaya kepemimpinan yang tegas tanpa neko-neko namun penuh solusi dan inovasi, menjadi ciri khas dari seorang mantan birokrat kelahiran Mamur, Fakfak, Provinsi Papua Barat, 19 Desember 1948 ini.

Allo Rafra, mengabdi sebagai birokrat selama 36 tahun di Papua dan Papua Barat. Ia menjadi CPNS pada 1973 lalu diangkat menjadi PNS pada 1975. Ia pensiun pada tahun 2009, mengakhiri pengabdian yang begitu panjang dengan sederet prestasi, terobosan, sebagai bukti nyata kontribusinya selaku abdi Negara di Bumi Cenderawasih.

Sejumlah jabatan strategis di tingkat provinsi maupun kabupaten pernah dipercayakan kepadanya. Termasuk Penjabat (Karateker) Bupati Mappi pada 2005-2006, merangkap Kepala Biro Pemerintahan Provinsi Papua kala itu. Kemudian Penjabat Bupati Mimika 2007-2008, di sinilah Allo banyak berkarya meski masa jabatannya terbilang cukup singkat.

Pengalaman birokrasi yang sangat matang tentu tak diragukan, terlebih sangat memahami kebutuhan masyarakat maupun skala prioritas pembangunan. Buktinya, Allo lagi-lagi dipercaya menjadi Staf Khusus Bupati Mimika pada 2015 di masa kepemimpinan Eltinus Omaleng-Yohanis Bassang hingga sekarang.

Pengalaman Allo Rafra memahami penyelenggaraan pemerintahan melalui sinergitas legislative-eksekutif, dimatangkan setelah dirinya terpilih menjadi Anggota DPRD Kabupaten Mimika masa bakti 2009-2014. Saat itu Allo menjabat sebagai Ketua Komisi A Bidang Pemerintahan, Politik, Hukum dan Keamanan DPRD Mimika.

Allo Rafra juga tak terlepas dari seorang ayah yang menjadi panutan. Ia memiliki tiga orang anak dari pernikahannya dengan Christa Elseria Simatupang, SH yang kini telah menyelesaikan pendidikan tinggi bahkan ke jenjang pasca sarjana. Ketiga anaknya itu adalah DR. Bintang Yuliana Lestari, SE, Yudha Casianus Rafra, ST. MM, dan dr. Maria Pentania Rafra, Mars.

Allo dikenal sebagai pemimpin yang tegas di kalangan Aparatur Sipil Negara. Tentu saja ketegasan itu sangat dibutuhkan di tengah rendahnya kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah kala itu. Meskipun begitu, Allo tak sekedar tegas. Ia paham betul segala mekanisme dan strategi yang tepat dalam menyelenggarakan pemerintahan.

Selama menjadi seorang birokrat, Allo juga tak jarang dihadapkan dengan situasi yang serba dilematis. Disamping tegas menjalankan tugas sesuai alurnya, namun juga harus menempatkan sebuah kebijakan yang tepat di tengah kondisi daerah dengan system otonomi khusus. Allo paham betul soal itu.

“Biroksasi, kekhususan Papua, saya paham betul. Kemudian bagaimana menempatkan sebuah kebijakan dalam menangani berbagai hal di masyarakat. Saya tidak merasa ada kekhususan, karena saya tahu karakter dan keinginan orang Papua. Saya lahir dan besar di Papua,” kata Allo.

Sebagai seorang lulusan hukum, Allo pun pernah menjabat Kepala Bagian Bantuan Hukum Setda Provinsi Papua. Ia bahkan sering menjadi Kuasa Hukum Pemerintah Provinsi Papua (waktu itu Irian Jaya) untuk menangani berbagai permasalahan hukum termasuk kasus tanah yang dihadapi oleh pemerintah Papua kala itu.

Kemudian saat menjabat Asisten III Setda Kabupaten Biak Numfor, Allo pernah mewakili Bupati dan Sekda setempat dalam menangani masalah mogok kerja karyawan PT Multi, sebuah perusahaan ikan di sana. Salah satu masalah cukup besar saat itu, dimana lebih dari 1.000 orang karyawan melakukan mogok kerja. Allo suskes menyelesaikan persoalan tersebut tanpa merugikan ribuan pekerja.

*Mekarkan Belasan Kabupaten*

Selama menjabat sebagai Kepala Biro Pemerintahan Provinsi Papua 2003-2007, Allo berperan penting dalam memekarkan sejumlah kabupten di wilayah Papua Tengah dan Papua Barat. Diantaranya Lany Jaya, Deiyai, Dogiyai, Nduga, Yalimo, Mamberamo Tengah, Puncak, Mamberamo Raya, Maibrat, dan Intan Jaya (awalnya dirintis Allo Rafra).

“Waktu itu saya berjuang di Jakarta sehingga sebelas kabupaten itu berhasil kami mekarkan. Kami datangi Departemen Dalam Negeri, bagaimana kabupaten itu dapat dimekarkan dengan tujuan pembangunan terlaksana secara merata dan seluruh masyarakat Papua dapat merasakan pembangunan. Artinya, mendekatkan pembangunan kepada masyarakat,” tutur Allo.

*Penjabat Bupati Mappi*

Allo Rafra dipercaya sebagai Penjabat Bupati Mappi 2005-2006. Di daerah ini Allo menemukan sebuah kondisi yang sangat unik. Ia harus melakukan pembangunan dengan hampir seluruh kondisi daratan berlumpur dan tanpa batu. Ia pun mencari metode bagaimana caranya membuat jalan di sana menjadi keras.

“Saya berusaha mencari tahu metode apa yang bisa dilakukan. Saya kemudian mendapat informasi bahwa ada campuran (kimia) untuk bagaimana membuat tanah itu keras seperti batu,” katanya.

Akhirnya, setelah menemukan metode tersebut, Allo kemudian menyulap tanah berlumpur sepanjang 38 kilometer menuju ke lokasi kantor bupati setempat menjadi keras. Dari 38 kilometer itu dengan kondisi yang sangat berat, Allo bersama jajarannya di sana berhasil membangun jalan raya sepanjang 28 kilometer. Aspal mulus pun yang disulap dari tanah berlumpur itu siap dilalui kendaraan.

“Selain itu, di sana kami membangun Dermaga, rehap atau memperpanjang lapangan terbang, dan sejumlah sekolah kami perbaiki menjadi jauh lebih layak. Terutama di sekitar pusat kota ada Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menenga Kejuruan (SMK) dan lainnya. Saya menjabat satu tahun, cukup singkat dan waktu saya terbatas untuk melakukn lebih banyak lagi,” kata dia.

*Penjabat Bupati Mimika*

Allo Rafra dipercaya sebagai Penjabat Bupati Kabupaten Mimika pada 18 Februari 2007 s/d 4 Desember 2008. Masa jabata yang terbilang cukup singkat, hanya 10 bulan. Namun tanpa disadari begitu jauh, ternyata begitu banyak perubahan yang dihadirkan. Apalagi Allo yang memang tidak begitu suka jika kinerjanya dipertontonkan.

“Tentu masyarakat banyak merasakan apa yang saya lakukan di Timika ini. Tapi mungkin saja mereka tidak menyadari perubahan itu terjadi pada saat saya menjabat dalam waktu yang cukup singkat. Tapi bagi saya itu tidak penting. Namun bagaimana masyarakat merasakan perubahan itu yang penting,” begitu kata Allo.

Pertama kali Allo menjabat di Mimika, lingkungan perkotaan sudah mulai ramai tetapi kondisi jalan sama sekali tidak terurus. Waktu itu jalan masih berlumpur dan kerikil-kerikir tajam mengganjal roda kendaraan. Konsentrasi warga masih berpusat di wilayah perkotaan, sementara wilayah pinggiran masih tampak hutan belantara.

Melihat kondisi jalan utama apalagi jalan lorong di Kota Timika seakan tak terurus, Allo kemudian mencari alternative bagaimana Ia bisa menyelesaikan itu dalam waktu singkat. Ia juga menyadari bahwa jabatannya tidak akan begitu lama, sehingga harus betul-betul memanfaatkan waktu sesingkat itu.

Allo kemudian bersama-sama dengan Lembaga Afiliasi Penelitian Indonesia (LAPI) Institut Teknologi Bandung (ITB) dan PT Freeport Indonesia melakukan penelitian bagaimana memanfaatkan pasir sisa tambang atau tailing perusahaan itu bisa dimanfaatkan membangun infrastruktur jalan.

Akhirnya, tailing pun dipakai untuk membangun sejumlah jalan lorong hingga jalan utama di Kota Timika. Allo bersama jajarannya di Dinas Pekerjaan Umum merintis pembangunan Jalan Hasanuddin. Waktu itu masih jalan setapak, lalu ditingkatkan menjadi jalan beraspal yang digunakan saat ini.

Tidak hanya itu, Allo membangun jalan Caritas (menujua Rumah Sakit Mitra Masyarakat) di Kelurahan Timika Jaya. Kemudian jalan menuju Kantor Bupati Kabupaten Mimika lama, yang beralamat di Jalan Poros SP5, Kampung Limau Asri.

Selain infrastruktur jalan, Allo merintis pembangunan Pasar Sentral Timika pada 2007. Beberapa los pasar dibangun yang kemudian dikembangkan dengan adanya beberapa gedung baru saat ini meski belum dimanfaatkan sepenuhnya oleh masyarakat.

Kondisi Pasar Sentral Timika selama belasan tahun dibangun, hingga saat ini belum banyak mengalami perubahan signifikan. Pemerintah daerah telah menambah beberapa gedung baru namun belum dimanfaatkan. Di samping itu, kondisi pasar menuai banyak sorotan karena tidak tertata secara baik.

Baru-baru ini pemerintah daerah melakukan penertiban pedagang yang semrawut berjualan di pinggiran jalan pasar. Hasilnya, justru menuai protes hingga terjadi aksi blockade jalan oleh para pedagang pasar sentral. Kondisi yang cukup memprihatinkan.

*Jembatan di Mimika Buah Tangan Allo Rafra*

Sejarah dan bukti mencatat bahwa hampir seluruh jembatan penghubung dalam Kota Timika dan sekitarnya dibangun pada masa kepemimpinan Allo Rafra. Terakhir, Allo membangun jembatan di Jalan Poros SP 5 menuju Kantor Bupati lama dan jembatan Kilometer 9, Jalan Poros Mapurujaya.

“Kalau ada orang yang klaim bahwa dia yang bangun jembatan itu, berarti dia tipu,” kata Allo.

Jembatan yang sudah memberi banyak manfaat bagi masyarakat itu masih bertahan sampai saat ini. Belum banyak perubahan pada sejumlah pembangunan tersebut. Contoh saja, jembatan selamat dating SP 2 yang sudah tampak tua memperlihatkan usianya yang dibangun oleh pejabat belasan tahun lalu.

*Selamatkan Warga Dari Malaria*

Masyarakat Mimika juga tentu merasakan ketika Allo melakukan pembenahan cukup besar di RSUD Mimika, baik dari segi fasilitas sampai pada operasional. Kondisinya kala itu cukup memprihatinkan, masyarakat banyak mengeluh.

Salah satu terobosan yang paling besar dibuat Allo pada tahun 2007, yaitu dengan mendatangkan obat malaria dari Tiongkok, China. Jenis obat itupun akhirnya dipaki di seluruh Papua kala itu. “Waktu itu kami mencari informasi bagaiman cara untuk mengatasi malaria di Mimika yang sudah menelan banyak korban jiwa,” ujarnya.

Dengan tanpa mengulur-ulur waktu mengingat korban malaria terus bertambah, Allo mengambil sikap dan tanpa melalui izin Kementerian Kesehatan lalu mendatangkan obat tersebut dari luar negeri. Ia pun sempat dipanggil oleh Menteri Kesehatan atas keputusan tanpa sepengetahun pemerintah pusat mendatangkan obat malaria.

“Saya ditanya kenapa harus datangkan obat itu (obat liar) tanpa izin, saya sampaikan bahwa saya harus menunggu izin begitu lama sedangkan rakyat saya sudah begitu banyak yang meninggal dunia. Setelah saya memberikan penjelasan, kemudian diteliti kembali dan akhirnya tidak menjadi masalah untuk digunakan,” katanya.

*Deposito Uang Kas Daerah*

Di akhir masa jabatan Allo pada desember 2008, sejumlah proyek yang harus dibayar namun taihan belum masuk. Namun waktu itu terdapat penerimaan dari Freeport yang belu seluruhnya masuk. “Jadi waktu itu kita dapat uang sangat banyak sekitar Rp800 miliar. Walaupun dipakai untuk membayar utang, masih akan ada sisa. Padahal waktu itu masih ada satu triwulan setoran dari Freeport belum masuk,” katanya.

Yang pasti ada depotiso kas daerah karena anggaran tidak terpakai habis. Adapun kas daerah yang dideposito di Bank Mandiri sebesar Rp200 miliar dan di Bank Papua sebesar Rp100 miliar. “Jadi waktu saya serahkan jabatan sebagai penjabat bupati, uang pemda di kas daerah ada sekitar Rp1,2 triliun,” jelasnya.

Kenyataan tersebut berbanding terbalik pada kondisi saat ini. Pemkab Mimika justru berutang ratusan miliar, sementara pembangunan tidak nampak begitu signifikan. Padahal, APBD Mimika terus mengalami kenaikan setiap tahun dan 2018 ini bahkan mendekati Rp3 triliun.

*Kerjasama Dengan Muspida Sangat Baik*

“Waktu semasa saya menjabat, saya kerjasama dengan Muspida sangat baik. Muspida sangat mendukung segala program pemerintah daerah untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Di samping itu, semua masalah-masalah dapat ditangani dengan cepat dan berhasil secara baik”

“Salah satu kebijakan sekaligus ketegasan yang mendapat dukungan Muspida terutama TNI dan Polri saat itu adalah menyangkut  minuman keras. Karena saya percaya, segala bentuk kerusakan yang terjadi salah satunya karena minuman keras. Kalau kita mau daerah kita aman, harus ditutup minuman keras itu”

“Oleh karena itu, saya melihat bahwa begitu banyak orang mabuk lalu membuat masalah, ada juga yang mati di jalan karena kecelakaan, saya pikir ini semua sumbernya adalah minuman keras. Karena itu, saya sangat tegas terhadap minuman keras apalagi menjelang Natal dan tahun baru saat itu”

“Selama saya menjabat, saya tidak pernah memberikan izin atau rekomendasi secarik kertaspun kepada siapapun di Mimika. Tapi pengusaha-pengusaha Miras juga inikan nakal. Mereka dengan berbagai alasan melakukan penjualan bahwa mereka dapat rekomendasi dari siapa saja yang disebut”

“Itu yang bikin saya marah karena bupati saja tidak kasih rekomendasi, masak ada orang lain yang bisa kasih rekomendasi. Ketegasan saya didukung penuh oleh aparat keamanan dan seluruh Muspida untuk melakukan pemberantasan miras. Waktu itu Kapolres Mimika AKBP Gothelp C. Masnemra”

“Pola memberantasan miras waktu itu, saya minta dukungan kepada kepolisian dan TNI dan saya turun langsung ke lapangan untuk bertindak. Saya pernah tempeleng salah seorang pengusaha Miras di Brigif. Saya marah sekali itu. Tidak ada izin tapi kok kenapa ada miras bisa dijual”

*Panggilan Hati*

“Di usia yang tidak mudah lagi, saya sebenarnya tidak ingin lagi jadi bupati maupun wakil bupati atau jabatan apapun itu. Tetapi panggilan hati, dengan melihat kondisi saat ini, saya bertekad bahwa kondisi ini harus diperbaiki. Karena sekarang ini kita lihat anggaran yang demikian besarnya, tapi tidak bisa dimanfaatkan untuk membangun daerah ini”

“Sama sekali tidak terlintas dalam pikiran saya untuk mau cari kekayaan atau uang, sedikitpun tidak. Saya hanya benar-benar ingin memperbaiki situasi dan kondisi yang saat ini terjadi. Oleh karena itu, saya ingin terus mengabdi kepada rakyat sampai nafas ini benar-benar habis”

“Karena saya lahir dan besar di Papua, sedangkan saudara-saudari saya semakin terpuruk. Maka itu bagaimana caranya untuk merubah nasib mereka dan juga saudara saya ini bisa mempunyai pekerjaan yang baik dan lain sebagainya. Kita di sini bisa hidup aman, nyaman dan tentram itu yang utama. Kita bisa hidup layaknya manusia, bisa menikmati segala apa yang diberika oleh Tuhan kepada daerah ini”

“Kita semua rasa bahwa ada hal yang salah. Perekonomian kita cukup terpuruk, tidak berkembang. Sebagian besar masyarakat kita terutama yang asli Papua ini tidak mengalami kemajuan. Pembangunan yang seharusnya dirasakan oleh masyarakat tidak dilaksanakan dengan baik. Pembangunan tidak tepat sasaran”

“Anggaran sangat besar saat ini, harusnya sudah ada kemajuan luar biasa. Di jaman saya tahun 2007 hanya Rp800 miliar dan tahun 2008 Rp1,1 triliun. Sedangkan sekarang ini APBD sampai Rp3 triliun, terus apa yang kita lihat sekarang. Saya pikir semua masyarakat tahu itu”

“Fasilitas yang ada saat ini, dari jaman saya menjabat itu saja. Tidak ada hal yang baru dibuat oleh pemerintah”

“Maka itu saya ingin mendampingi pak Mus Pigai satu periode saja untuk menata kembali pemerintahan. Segala macam inikan pemerintah daerah yang mengatur. Kalau di dalam itu sudah tidak beres, apa yang bisa kita lakukan lagi. Masing-masing jalan sendiri-sendiri, tidak bisa itu”

“Saya ingin semua komponen di pemerintahan harus semua bisa bersatu melihat permasalahan di masyarakat. Dan semua permasalahan di masyarakat kita harus lihat secara komprehensip. Tidak bisa setengah-setengah, apalagi jalan sendiri-sendiri”

“Program yang kami tawarkan “membangun kampung, menata kota” artinya kita jangan terjemahkan kampung ini yang letaknya jauh di sana. Di dalam kota inikan, pinggiran ada kampung juga yang akan kita lihat secara keseluruhan. Kemudian menata kota, apapun fasilitas di kota yang perlu itu yang akan kita tambah. Bagaimana kita bisa melihat kota ini indah, nyaman dan tentram”

“Jangan kita bermimpi untuk bicara aman, damai dan sejahtera kalau ternyata setiap hari orang baku bunuh, konflik, bagaimana mau sejahtera. Kemudian baru pernah terjadi utang sampai Rp400 miliar. Padahal tidak ada pembangunan yang terlihat begitu signifikan”

 

Penulis:

Sumber:

 

Satu tanggapan untuk “Allo Rafra, Birokrat Teladan Berkarakter Aktivis

  • Mei 15, 2018 pada 3:14 pm
    Permalink

    Hi, this is a comment.
    To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
    Commenter avatars come from Gravatar.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *